Jangan Gengsi, Sorgum Tak Kalah Dengan Gandum
JAKARTA - Hingga kini kebutuhan pangan rakyat Indonesia tidak terlepas dari produk berbasis gandum sebagai sumber karbohidrat dan protein. Kebutuhan akan gandum di Indonesia relatif besar dan selama ini seluruhnya di impor. Pada tahun 2010 impor gandum Indonesia mencapai 5,85 juta ton (senilai 25 triliun) atau setara dengan konsumsi terigu 4,3 juta ton, dan diperkirakan konsumsi gandum nasional naik 6% per tahun.
Dari jumlah tersebut konsumsi terigu untuk pembuatan mie (noodle) 60%, cookies/snack 10%, bakery cake 20%, dan 10% untuk penggunaan rumah tangga. Ketergantungan bahan baku industri pangan terhadap gandum (impor) perlu dikurangi melalui substitusi terigu dengan sumber pangan bijian lokal yang memiliki sifat fisiko-kimia (functional properties) mendekati gandum. Salah satunya dengan memanfaatkan tepung sorgum termodifikasi sebagai upaya pencapaian ketahanan pangan jangka panjang dan menciptakan kemandirian bangsa.
Sorgum, sebagai bahan baku utama tepung merupakan salah satu jenis tanaman serelia yang mempunyai daya adaptasi lingkungan yang cukup luas, yaitu toleran terhadap kekeringan dan genangan air, serta relatif tahan terhadap gangguan hama atau penyakit.
Dengan adanya potensi lahan marginal yang bisa dimanfaatkan untuk budidaya sorgum, maka tentu saja akan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor gandum.
Saat ini di seluruh Indonesia terdapat sekitar 853 ribu hektar lahan marginal yang jika dikelola dengan baik akan menghasilkan sekitar 6-10 juta ton biji sorgum per tahun dan 75-100 juta ton batang per tahun yang mengandung 40-60 juta kL nira per tahun. Akan tetapi, saat ini rata-rata produksi sorgum nasional hanya sekitar 4000-6000 ton per tahun.
Melihat kondisi tersebut, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah melakukan pengkajian dan penerapan teknologi proses produksi tepung sorgum termodifikasi. Biji sorgum telah dibuktikan dapat diolah menjadi tepung termodifikasi untuk substitusi tepung terigu (50-100%) sebagai bahan baku pangan olahan seperti noodle, bolu dan cookies. Biji sorgum juga mempunyai nilai gizi yang memadai, yaitu mengandung sekitar 73% karbohidrat, 11% protein, dan 3,3% lemak.
Tepung sorgum termodifikasi merupakan tepung sorgum yang telah dimodifikasi secara fisis melalui perlakuan panas dan tekanan sehingga mempunyai sifat fisiko-kimia (functional properties) mendekati tepung terigu komersial.
Sebelum dimodifikasi, biji sorgum perlu disosoh terlebih dahulu dengan mesin penyosoh tipe abrasif (gurinda batu) untuk mengurangi kandungan tanin (0,4%-3,6%) yang menyebabkan rasa sepat yang kurang disukai konsumen.
Biji sorgum yang digunakan dapat berasal dari berbagai varietas karena setelah disosoh akan menjadi beras sorgum yang berwarna putih, akan tetapi sebaiknya digunakan biji sorgum yang cocok untuk pangan, yaitu biji yang berwarna relatif putih (terang).
Selanjutnya modifikasi dilakukan dengan teknik ekstrusi pada kondisi operasi tertentu. Tepung sorgum dapat dimodifikasi dengan hasil karakteristik yang berbeda-beda sesuai dengan jenis tepung terigunya.











0 komentar:
Posting Komentar