Ekspor Ikan Hidup Tanpa Air


Foto: dok. Unpad

JAKARTA - Kebayang enggak, mengekspor ikan hidup tanpa media air? Padahal, hanya di airlah ikan dapat hidup. 

Ide yang tampaknya mustahil ini berhasil diwujudkan oleh Irman Eka Septiarusli, Lantun Paraditha D, dan Eli Riswandi. Ketiga mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FKIK) Universitas Padjadjaran (Unpad) tersebut menemukan, buah keben dapat menjadi bahan anastesi alami dalam proses pemingsanan ikan sebelum didistribusikan ke berbagai daerah, termasuk untuk ekspor. Cara pemingsanan ini tidak hanya praktis, tetapi juga menurunkan risiko stres yang mungkin dialami ikan hingga menyebabkan kematian. 

Menurut Irman, ide penggunaan buah keben sebagai anastesi terinspirasi dari kebiasaan para nelayan Pamengpeuk yang menangkap ikan dengan buah keben. "Kami jadi ingin tahu, apakah buah keben ini berpotensi untuk anastesi ikan. Ternyata hasilnya berpotensi untuk transportasi ikan tanpa media air," kata Irman, seperti dikutip dari laman Unpad, Selasa (31/7/2012). 

Penelitian Irman dan timnya menemukan, ekstrak biji buah keben mengandung senyawa saponin yang dapat berfungsi sebagai zat anastesi sekaligus racun bagi ikan. Ketiganya sampai pada kesimpulan, konsentrasi ekstrak biji buah keben 14 mg per literlah yang paling optimal serta menghasilkan fase pingsan dan pulih tercepat. 

Mereka juga menemukan, penggunaan ekstrak buah keben tidak meninggalkan residu seperti jika menggunakan zat anastesi berupa senyawa sintetis kimia,  tricaine (MS-222).  "Senyawa ini tidak mudah terdegradasi dalam tubuh ikan sehingga bahaya jika kita mengonsumsi ikan dengan residu tricaine. Sementara buah keben larut dalam air sehingga mudah terdegradasi," ujar Irman. 

Selain itu, Irman mengimbuh, keunggulan lainnya adalah buah keben mudah didapat. Ia tumbuh sepanjang musim serta dapat ditemukan di pesisir pantai maupun pegunungan. 

Metode pemingsanan ikan dengan buah keben dilakukan dengan memasukkan ikan ke dalam wadah berisi air laut yang sudah dicampur dengan ekstrak biji buah keben. Setelah ikan pingsan, ia kemudian dibungkus dengan kertas koran. Ikan-ikan tersebut kemudian ditempatkan ke dalam kotak styrofoam dengan posisi tegak berselang-seling di antara media pengisi, yakni serbuk gergaji yang didinginkan sampai suhu 14 derajat celcius. 

"Dengan metode ini, ikan dapat pingsan selama enam jam tanpa media air,' imbuhnya.

Penemuan Irman dkk dituangkan dalam karya tulis berjudul "Pemanfaatan Ekstrak Biji Buah Keben (barrringtonia asiatica Kurz) sebagai solusi Transportasi Ikan Kerapu Hidup Tanpa Media Air". Dalam paparannya mereka juga menjelaskan, metode ini dapat mendukung proses ekspor ikan sesuai tuntutan global, yakni dalam keadaan hidup. 

"Ikan hidup bisa dihargai tiga hingga empat kali lipat ketimbang ikan mati. Terutama komoditas unggulan Indonesia seperti kerapu," tutur Irman.

Dengan bimbingan Santi Rukminita A., STP., M.Si., karya tulis tersebut diikutsertakan dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) XXV kategori Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian (PKMP) kelas presentasi. Meski target emas urung terpenuhi, mereka mendapatkan penghargaan setara perunggu sebagai gantinya.

posted under , |

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Followers

    Advertise


Recent Comments